October 6, 2012

Tick-tocks and Tears

Nee, Horrors-tachi,

Kalian tahu, tidak? Aku bukan orang yang bisa menangis setiap kali ada acara perpisahan.


Aku tidak menangis saat perpisahan Konferensi Anak Bobo 2007. Aku tidak menangis saat perpisahan SMP dan semua bermaaf-maafan, yang kulakukan saat itu hanya meminta maaf tanpa air mata yang ingin keluar, padahal aku ingin sekali menangis dan menunjukkan pada mereka semua bahwa aku menyayangi Sempana dan tidak mau kehilangan @eightsigh7ed.

Aku bahkan tidak menangis saat nenek dan kakekku meninggal--walau kenyataannya memang sulit menemukan orang yang menangisi kepergian mereka selama acara penguburan, karena masih beranggapan bahwa mereka sudah bahagia di surga.

Aku melihat temanku yang menangis karena pamannya meninggal secara mendadak, dengan cara yang agak tidak menyenangkan, dan lebih lagi belum percaya kepada Tuhan. Dia menangis.

3 di antara kita akan pergi sebentar lagi, akhir bulan ini. Kelas kita akan bertambah sepi--tidak ada yang tahu apakah akan hadir orang lain yang menggantikan posisi mereka seperti Bill dulu. Setidaknya, mereka pergi untuk mengejar mimpi mereka, bukan?

Aku yakin seratus persen bulat-bulat bahwa aku sudah memiliki daftar nama orang-orang yang akan menangis di acara perpisahan yang entah kapan dan bagaimana hal itu akan terjadi. Tidak ada namaku di sana.

Aku tahu, aku bukan orang yang mudah menangis. Aku mungkin seorang penggembira, aku mungkin terlihat jelas saat aku marah, namun aku tidak sering menunjukkan sisi kegalauanku di depan banyak orang, dan aku tidak sering menangis karena hal-hal yang sudah kusebutkan.

Apa aku ini ... tidak punya hati?

Jawablah.

Dream out Loud! =)

No comments:

Post a Comment

Review yang membangun akan selalu dibaca dengan senyum lebar di raut wajah penulis :)