Nee, sensible girl,
Aku setengah berharap kau tidak menyadari bahwa kaulah yang aku bicarakan di sini. Aku tahu, kita adalah teman sekelas, dan mungkin apa yang kukatakan adalah (sesuatu yang kuharapkan sebagai) sebuah kesalahan yang diperbuat oleh telingaku yang sensitif kalau sudah berurusan dengan Kuro-chan.
Ya, berdasarkan apa yang kudengar, aku baru saja mengerti bahwa retreat kali ini membuatku jatuh cinta dan patah hati dalam waktu bersamaan. Di saat absensi, aku mendengar kalau Kuro-chan menyukaimu--sampai menyerempet soal istri idaman.
Dan mendadak aku ingat kalau kalian berasal dari sekolah yang sama--aku tidak yakin kalau kalian satu kelas juga. Saat kita berjalan bersama dari kelas Kimia, dia menyapamu terlebih dahulu. Di Twitter, jarang sekali ada akun milik seorang wanita yang ia ikuti, kecuali--berdasarkan apa yang aku ingat--kakaknya dan kau. Dan semua gaya bicaranya saat ia menyatakan perasaannya padamu, rasanya aku ingin menangis sembari meringkuk di balik selimut.
Mengapa kau harus begitu menarik?
Aku kadang iri padamu--oh ayolah, aku iri pada semua orang, mungkin--mengenai begitu banyak hal. Aku iri pada kecantikanmu. Pada pacarmu yang begitu pintar dan sangat dewasa. Pada kepintaran dan kemampuanmu untuk menari dan bermain gitar. Pada sikapmu yang cocok untuk menjadi kekanak-kanakan dan dewasa dalam waktu yang sama.
Pada apapun yang melekat di dirimu sampai Kuro-chan jatuh cinta padamu.
Karena aku sadar, aku bukan apa-apa jika dibandingkan denganmu. Aku tidak berharga di matanya jika ada kau. Dia pasti menyukaimu sejak lama, walau aku tak yakin kapan. Dalam waktu sepersekian detik, aku tahu kalau harapanku agar dia menyukaiku adalah sia-sia belaka--oh ayolah, ia pasti terlalu buta olehmu untuk menyadari modusku terhadapnya!
Terkadang, aku berharap aku bisa menjadi dirimu. Aku tahu itu salah, namun selama aku tidak menggilai harapan itu, sepertinya sedikit iri padamu tidak akan menjadi masalah besar.
--ups. Mungkinkah?
Dream out Loud! =)
Days told in drabbles. Feel free to review and follow. All the words flow--and nearly the whole idea © Livia Andriana
October 25, 2012
Envy
Written by
Livia Andriana L
It's about
10 horror,
friendship,
hate,
kuro-chan,
love,
shy,
unreachable dreams,
uphc
October 24, 2012
Thank you, Farewell
Written by
Livia Andriana L
It's about
eightsigh7ed,
farewell,
kuro-kun,
love
Nee, Kuro-kun,
Aku ingin mengucapkan perpisahan kecil untukmu, untuk perasaanku mungkin. Perasaanku semakin mengecil. Seiring berjalannya waktu, saat aku memikirkan dirimu, yang semakin jarang terlintas, semua debaran itu akan menghilang. Jadi untuk saat ini, biarkan aku mengucapkan selamat tinggal. Untuk perasaanku padamu. Untuk semua harapanku yang tidak mungkin terjadi. Untuk semua keinginanku mengenai kado ulang tahun yang mungkin takkan kuberikan padamu.
Terima kasih, sampai jumpa.
Mulai sekarang, saat kau menggalaukan dirinya, aku juga akan merasakan hal yang sama untuk Kuro-chan.
Dream out Loud! =)
Aku ingin mengucapkan perpisahan kecil untukmu, untuk perasaanku mungkin. Perasaanku semakin mengecil. Seiring berjalannya waktu, saat aku memikirkan dirimu, yang semakin jarang terlintas, semua debaran itu akan menghilang. Jadi untuk saat ini, biarkan aku mengucapkan selamat tinggal. Untuk perasaanku padamu. Untuk semua harapanku yang tidak mungkin terjadi. Untuk semua keinginanku mengenai kado ulang tahun yang mungkin takkan kuberikan padamu.
Terima kasih, sampai jumpa.
Mulai sekarang, saat kau menggalaukan dirinya, aku juga akan merasakan hal yang sama untuk Kuro-chan.
Dream out Loud! =)
Koi Wa Burakku
Written by
Livia Andriana L
It's about
friendzoned,
kuro-chan,
love,
miracle,
unreachable dreams,
uphc
Nee, Aka-chan (atau yang harus kuubah sebentar lagi),
Rasanya, aku mulai jatuh cinta padamu. Benar tebakanku, suatu hari nanti perasaanku akan berkembang untukmu. Namun tak kusangka, tiga hari yang menggila ini membuatku sadar bahwa kaulah yang sekarang selalu membayangi pikiranku.
Aku begitu bahagia untuk berada dalam bus yang sama denganmu--walau kenyataannya tidak ada yang terjadi saat kita berangkat menuju Ciawi. Aku begitu kesal untuk tidak bisa bergabung dengan kelompok yang sama denganmu--mungkin aku salah berdoa, karena tepatnya kau ada di kelompok dengan tema yang sama sekali tidak kuinginkan untuk talent show.
Namun tiga hari ini, aku sedikit lebih mengenalmu. Dari pengamatanku, aku sadar kalau kau menyukai warna hitam. Jaket hitam yang kau pakai di atas kaus hitammu membuatmu terlihat begitu keren di mataku, begitu juga dengan celana hitam dan jam tangan hitam--sayang tasmu berwarna abu-abu. Demi apapun astaga aku berani bersumpah kau begitu memukau dalam balutan hitam, yang kontras dengan warna kulitmu.
Aku ingat saat aku begitu kesal untuk tidak berbicara denganmu walau hanya sekali saja, sampai akhirnya aku memanggilmu dengan sebutan lain yang kusamarkan untukmu. Kau tak mengerti, walau aku tak lagi menjadi rusa di depan lampu sorot mobil, aku masih begitu gembira untuk sadar saat kau memanggilku sambil memintaku untuk memanggilmu dengan benar. Apalagi dalam talent show, astaga kau membuatku begitu bahagia untuk mendengar suaramu saat menyanyi, melihat kekonyolanmu saat menarikan tarian aneh bin sinting itu, dan tawamu yang cukup keras itu. Untuk melihatmu tersenyum yang lucu itu, aku begitu bahagia. Ya, aku akan berusaha untuk memanggilmu dengan benar.
Aku senang untuk berfoto agak dekat denganmu saat foto sekolah. Aku tak mau peduli. Aku ingin berada lebih dekat denganmu lagi. Tidak apa-apa, kan? Aku ingin meneriakkan namamu terus-menerus dan mengatakan kalau aku mencintaimu. Bolehkah? (walau aku sadar, kau menyukai temanku, membuatku semakin iri saja dengan kecantikannya)
Cinta, bagiku, bukanlah berwarna merah, namun berwarna hitam. Menenangkan. Memukau. Mempesona. Menarik perhatian. Kau adalah hitamku yang baru. Aku mencintaimu.
Dream out Loud! =)
October 21, 2012
Little Wish
Written by
Livia Andriana L
It's about
hate,
kuro-kun,
love,
sempana,
unreachable dreams
Nee, Kuro-kun,
Aku harap kita masih satu kelas.
Dream out Loud! =)
(--agar aku tetap bisa menyukaimu, agar aku tidak pernah merasa lelah untuk mencintaimu, agar aku tahu bahwa mempertahankan perasaan ini adalah hal yang benar, agar aku mengerti bahwa tidak sepantasnya aku beranjak dari sensasi yang telah menyelimutiku selama sepuluh bulan terakhir ini. Andai kita masih menuntut ilmu dalam kelas yang sama, kemungkinan besar nama aka-chan tidak akan muncul dalam blog ini karena seluruh perasaanku hanyalah untukmu. Aku mungkin tidak lagi mencintaimu seperti dulu karena kau sudah terlalu jauh di mataku, dan mulai membagi perasaanku untuk orang lain karena kau tidak bisa meyakinkanku lagi. Aku ingin mencintaimu sepenuhnya, namun takdir tidak memberi kesempatan yang sepantasnya.)
Aku harap kita masih satu kelas.
Dream out Loud! =)
(--agar aku tetap bisa menyukaimu, agar aku tidak pernah merasa lelah untuk mencintaimu, agar aku tahu bahwa mempertahankan perasaan ini adalah hal yang benar, agar aku mengerti bahwa tidak sepantasnya aku beranjak dari sensasi yang telah menyelimutiku selama sepuluh bulan terakhir ini. Andai kita masih menuntut ilmu dalam kelas yang sama, kemungkinan besar nama aka-chan tidak akan muncul dalam blog ini karena seluruh perasaanku hanyalah untukmu. Aku mungkin tidak lagi mencintaimu seperti dulu karena kau sudah terlalu jauh di mataku, dan mulai membagi perasaanku untuk orang lain karena kau tidak bisa meyakinkanku lagi. Aku ingin mencintaimu sepenuhnya, namun takdir tidak memberi kesempatan yang sepantasnya.)
Deer in the Headlights
Written by
Livia Andriana L
It's about
english class,
kuro-chan,
love,
shy,
uphc
Nee, Aka-chan,
Aku mengakuinya sekarang, aku mulai menyukaimu, memimpikanmu, dan berdoa agar kita bisa bergabung dalam kelompok yang sama saat retreat di esok hari. Atau pasangan dalam ujian speaking Bahasa Inggris. Atau apapun yang akan menjadi sangat membekas di hatiku--karena saat kita sekelompok, aku bahkan tidak menyadari apa-apa, hanya kalau kita menang.
Aku kadang bermimpi kau menggantikan Garry di kelasku. Atau aku (dengan ekstrimnya) bermimpi kita pergi jalan-jalan berdua, bermain DJ Max berdua, lalu saat kita ada di luar di malam hari, kau memelukku dari belakang dan aku seperti rusa terkena lampu depan mobil--seakan aku dan seluruh dunia berhenti seketika.
Ya, aku adalah rusa yang melihat lampu depan mobil. Aku berhenti dan nyaris tidak bisa memikirkan apapun saat kau memanggilku dengan panggilanmu yang aneh namun sangat kusukai, yang pertama kali kau lontarkan saat kau bahkan melupakan namaku. Setiap kali aku mendengar sepotong suaramu yang ditujukan untukku secara mendadak, aku terdiam membeku di tempat sebelum aku bisa membalas dengan ledekan yang kubuat sendiri--dan sayangnya itu bukanlah apa yang biasa kugunakan untuk merujuk kepadamu dalam blog ini.
Aku ingin menyatakan perasaanku, namun bukan sekarang. Saat ini aku masih memiliki sedikit pengharapan agar kau bisa membalas perasaanku, tidak seperti yang dulu yang aku yakini takkan pernah bisa membalas perasaanku.
Jadi, apa salah kalau aku begitu gembira untuk menemukanmu di situs jejaring sosial namun tidak membuat koneksi apapun denganmu, hanya menunggumu untuk melakukannya lebih dahulu--itupun kalau kau ingat padaku?
Dream out Loud! =)
(--dan oh iya, Tuhan, apa aku meminta hal yang salah untuk membiarkan aku dan Aka-chan berada dalam kelompok yang sama saat retreat nanti, bukan hanya sekedar dalam bus yang sama?)
Aku mengakuinya sekarang, aku mulai menyukaimu, memimpikanmu, dan berdoa agar kita bisa bergabung dalam kelompok yang sama saat retreat di esok hari. Atau pasangan dalam ujian speaking Bahasa Inggris. Atau apapun yang akan menjadi sangat membekas di hatiku--karena saat kita sekelompok, aku bahkan tidak menyadari apa-apa, hanya kalau kita menang.
Aku kadang bermimpi kau menggantikan Garry di kelasku. Atau aku (dengan ekstrimnya) bermimpi kita pergi jalan-jalan berdua, bermain DJ Max berdua, lalu saat kita ada di luar di malam hari, kau memelukku dari belakang dan aku seperti rusa terkena lampu depan mobil--seakan aku dan seluruh dunia berhenti seketika.
Ya, aku adalah rusa yang melihat lampu depan mobil. Aku berhenti dan nyaris tidak bisa memikirkan apapun saat kau memanggilku dengan panggilanmu yang aneh namun sangat kusukai, yang pertama kali kau lontarkan saat kau bahkan melupakan namaku. Setiap kali aku mendengar sepotong suaramu yang ditujukan untukku secara mendadak, aku terdiam membeku di tempat sebelum aku bisa membalas dengan ledekan yang kubuat sendiri--dan sayangnya itu bukanlah apa yang biasa kugunakan untuk merujuk kepadamu dalam blog ini.
Aku ingin menyatakan perasaanku, namun bukan sekarang. Saat ini aku masih memiliki sedikit pengharapan agar kau bisa membalas perasaanku, tidak seperti yang dulu yang aku yakini takkan pernah bisa membalas perasaanku.
Jadi, apa salah kalau aku begitu gembira untuk menemukanmu di situs jejaring sosial namun tidak membuat koneksi apapun denganmu, hanya menunggumu untuk melakukannya lebih dahulu--itupun kalau kau ingat padaku?
Dream out Loud! =)
(--dan oh iya, Tuhan, apa aku meminta hal yang salah untuk membiarkan aku dan Aka-chan berada dalam kelompok yang sama saat retreat nanti, bukan hanya sekedar dalam bus yang sama?)
October 6, 2012
Tick-tocks and Tears
Written by
Livia Andriana L
It's about
10 horror,
farewell,
friendship,
uphc
Nee, Horrors-tachi,
Kalian tahu, tidak? Aku bukan orang yang bisa menangis setiap kali ada acara perpisahan.
Aku tidak menangis saat perpisahan Konferensi Anak Bobo 2007. Aku tidak menangis saat perpisahan SMP dan semua bermaaf-maafan, yang kulakukan saat itu hanya meminta maaf tanpa air mata yang ingin keluar, padahal aku ingin sekali menangis dan menunjukkan pada mereka semua bahwa aku menyayangi Sempana dan tidak mau kehilangan @eightsigh7ed.
Aku bahkan tidak menangis saat nenek dan kakekku meninggal--walau kenyataannya memang sulit menemukan orang yang menangisi kepergian mereka selama acara penguburan, karena masih beranggapan bahwa mereka sudah bahagia di surga.
Aku melihat temanku yang menangis karena pamannya meninggal secara mendadak, dengan cara yang agak tidak menyenangkan, dan lebih lagi belum percaya kepada Tuhan. Dia menangis.
3 di antara kita akan pergi sebentar lagi, akhir bulan ini. Kelas kita akan bertambah sepi--tidak ada yang tahu apakah akan hadir orang lain yang menggantikan posisi mereka seperti Bill dulu. Setidaknya, mereka pergi untuk mengejar mimpi mereka, bukan?
Aku yakin seratus persen bulat-bulat bahwa aku sudah memiliki daftar nama orang-orang yang akan menangis di acara perpisahan yang entah kapan dan bagaimana hal itu akan terjadi. Tidak ada namaku di sana.
Aku tahu, aku bukan orang yang mudah menangis. Aku mungkin seorang penggembira, aku mungkin terlihat jelas saat aku marah, namun aku tidak sering menunjukkan sisi kegalauanku di depan banyak orang, dan aku tidak sering menangis karena hal-hal yang sudah kusebutkan.
Apa aku ini ... tidak punya hati?
Jawablah.
Dream out Loud! =)
Kalian tahu, tidak? Aku bukan orang yang bisa menangis setiap kali ada acara perpisahan.
Aku tidak menangis saat perpisahan Konferensi Anak Bobo 2007. Aku tidak menangis saat perpisahan SMP dan semua bermaaf-maafan, yang kulakukan saat itu hanya meminta maaf tanpa air mata yang ingin keluar, padahal aku ingin sekali menangis dan menunjukkan pada mereka semua bahwa aku menyayangi Sempana dan tidak mau kehilangan @eightsigh7ed.
Aku bahkan tidak menangis saat nenek dan kakekku meninggal--walau kenyataannya memang sulit menemukan orang yang menangisi kepergian mereka selama acara penguburan, karena masih beranggapan bahwa mereka sudah bahagia di surga.
Aku melihat temanku yang menangis karena pamannya meninggal secara mendadak, dengan cara yang agak tidak menyenangkan, dan lebih lagi belum percaya kepada Tuhan. Dia menangis.
3 di antara kita akan pergi sebentar lagi, akhir bulan ini. Kelas kita akan bertambah sepi--tidak ada yang tahu apakah akan hadir orang lain yang menggantikan posisi mereka seperti Bill dulu. Setidaknya, mereka pergi untuk mengejar mimpi mereka, bukan?
Aku yakin seratus persen bulat-bulat bahwa aku sudah memiliki daftar nama orang-orang yang akan menangis di acara perpisahan yang entah kapan dan bagaimana hal itu akan terjadi. Tidak ada namaku di sana.
Aku tahu, aku bukan orang yang mudah menangis. Aku mungkin seorang penggembira, aku mungkin terlihat jelas saat aku marah, namun aku tidak sering menunjukkan sisi kegalauanku di depan banyak orang, dan aku tidak sering menangis karena hal-hal yang sudah kusebutkan.
Apa aku ini ... tidak punya hati?
Jawablah.
Dream out Loud! =)
October 5, 2012
The Key
Written by
Livia Andriana L
It's about
kuro-kun,
love,
photo,
unreachable dreams,
uphc
Nee, Kuro-kun,
Itu kunci loker perpustakaan, sebenarnya. Warnanya hitam, dengan tulisan hitam di atas kotak putih, dan ada gelang karet hitam agar tidak hilang. Serba hitam, serasi denganmu dan kontras denganku, bukan? Teman-temanku saat sedang berfoto bersama di perpustakaan bertanya-tanya mengapa aku terus mengikutsertakannya dalam nyaris foto dan akhirnya membantuku membuat foto ini--tentu saja sambil menceritakan dirimu.
Aku ingin berkata bahwa itu singkatan dari motto-ku, dream out loud, namun akhirnya malah jadi membicarakanmu. Ya, aku masih terbang ke langit setiap kali mendengar namamu--jangan heran mengapa aku mengusulkan tema 'perapian yang menyala-nyala' untuk tugas miniatur CS. Aku ingin mengenangmu sampai akhirnya aku benar-benar bisa berpindah hati. Untuk sekarang ini, aku masih menyukai gambar ini.
412. Itu (sebagian dari) inisial namamu. Itu juga inisial nama kita. Namun aku tidak pernah bisa memiliki kunci ini, ini hanya sewaan belaka. Namun aku akan berusaha menempati loker itu setiap kali pergi ke perpustakaan.
Dan mengingat itu hanyalah sewaan, aku sadar bahwa aku takkan pernah bisa memilikimu--aku hanya bisa meminjammu saja, karena kau sudah ada yang punya. Aku hanya orang ketiga bersifat transparan, atau mungkin keempat, atau mungkin jajaran paling terakhir dari para putri Hawa yang memendam perasaan khusus untukmu, karena aku takkan pernah pantas untuk mencintaimu seutuhnya. Tidak, aku bukanlah milikmu, kau bukanlah milikku juga.
Aku hanya menyewa kau untuk kucintai sementara waktu, untuk menyenangkan hatiku belaka. Namun sadarlah, aku mencintaimu karena aku ingin mencintaimu. Tidak lebih.
Dream out Loud! =)
Itu kunci loker perpustakaan, sebenarnya. Warnanya hitam, dengan tulisan hitam di atas kotak putih, dan ada gelang karet hitam agar tidak hilang. Serba hitam, serasi denganmu dan kontras denganku, bukan? Teman-temanku saat sedang berfoto bersama di perpustakaan bertanya-tanya mengapa aku terus mengikutsertakannya dalam nyaris foto dan akhirnya membantuku membuat foto ini--tentu saja sambil menceritakan dirimu.
Aku ingin berkata bahwa itu singkatan dari motto-ku, dream out loud, namun akhirnya malah jadi membicarakanmu. Ya, aku masih terbang ke langit setiap kali mendengar namamu--jangan heran mengapa aku mengusulkan tema 'perapian yang menyala-nyala' untuk tugas miniatur CS. Aku ingin mengenangmu sampai akhirnya aku benar-benar bisa berpindah hati. Untuk sekarang ini, aku masih menyukai gambar ini.
412. Itu (sebagian dari) inisial namamu. Itu juga inisial nama kita. Namun aku tidak pernah bisa memiliki kunci ini, ini hanya sewaan belaka. Namun aku akan berusaha menempati loker itu setiap kali pergi ke perpustakaan.
Dan mengingat itu hanyalah sewaan, aku sadar bahwa aku takkan pernah bisa memilikimu--aku hanya bisa meminjammu saja, karena kau sudah ada yang punya. Aku hanya orang ketiga bersifat transparan, atau mungkin keempat, atau mungkin jajaran paling terakhir dari para putri Hawa yang memendam perasaan khusus untukmu, karena aku takkan pernah pantas untuk mencintaimu seutuhnya. Tidak, aku bukanlah milikmu, kau bukanlah milikku juga.
Aku hanya menyewa kau untuk kucintai sementara waktu, untuk menyenangkan hatiku belaka. Namun sadarlah, aku mencintaimu karena aku ingin mencintaimu. Tidak lebih.
Dream out Loud! =)
Spirits Related to You
Written by
Livia Andriana L
It's about
depressed,
english class,
friendzoned,
kuro-chan,
love,
unreachable dreams,
uphc
Nee, Aka-chan,
Hari ini aku bertanya kepada teman-temanku yang biasanya makan siang bersamaku--bisakah mereka menebak dirimu sebagai orang yang menyemangatiku dalam setiap pertemuan pelajaran yang membosankan ini?
Ini hari Jumat. Mungkin aku terlalu awal untuk menyatakan bahwa Jumat adalah kebahagiaanku. Mungkin kebahagiaan yang kudapatkan itu memang terjadi hanya sekali. Jumat lalu, posisi duduk kita diacak, dan aku tidak bisa duduk bersamamu. Jumat ini ....
Aku ingin marah, Aka-chan! Mengapa kau melarikan diri begitu saja? Juliet ingin pergi bersama Romeo, bodoh! Kau dengan gembira bermain-main saat aku terjebak dengan pembuatan esai dalam waktu tiga puluh menit.
Aku bukan hanya meringis melihat betapa sulitnya untuk merangkai kata-kata. Aku butuh teriakan ceriamu, candaanmu dalam kelas, tawamu, atau setidaknya ekspresi wajahmu saat kau sedang mengulum permen karet--lalu aku akan berusaha modus untuk meminta permen karet lagi. Bodoh. Aku sudah kepalang senang melihat kau duduk di meja di sampingku saat makan siang tadi, mengapa kau malah tidak bisa membuatku ceria lebih lagi?
Mengapa kebahagiaan itu begitu sulit untuk didapatkan?
Mungkin aku memang belum sampai kepada tahap 'suka', mungkin aku masih hanya mengagumimu dan menganggap suaramu yang memanggilku dengan sebutan menyebalkan namun lucu itu adalah luapan sungai kebahagiaan untukku. Mungkin karena itulah, aku harus terus berusaha agar setidaknya aku bisa melirik ke mana arah kau datang dan pergi, agar aku bisa berbicara denganmu walau hanya sekilas, agar aku bisa dianggap setara denganmu ....
Astaga. Aku jadi berlaku bodoh karenamu.
Apapun itu, aku sudah sadar suatu hari nanti aku akan mulai kehilangan dirimu, tetapi aku tidak pernah menyangka hal itu akan terjadi secepat ini. Nee, Aka-chan no baka, aku ingin kau ada di sampingku, mengajakku bicara lagi, dan aku ingin mengenal dirimu lebih lagi. Buat aku jatuh cinta padamu, melupakan dirinya karenamu, dan mabuk setiap empat hari dalam seminggu oleh perasaanku untukmu.
Do happiness only came on Friday? Mostly happiness related to you?
Dream out Loud! =)
Hari ini aku bertanya kepada teman-temanku yang biasanya makan siang bersamaku--bisakah mereka menebak dirimu sebagai orang yang menyemangatiku dalam setiap pertemuan pelajaran yang membosankan ini?
Ini hari Jumat. Mungkin aku terlalu awal untuk menyatakan bahwa Jumat adalah kebahagiaanku. Mungkin kebahagiaan yang kudapatkan itu memang terjadi hanya sekali. Jumat lalu, posisi duduk kita diacak, dan aku tidak bisa duduk bersamamu. Jumat ini ....
Aku ingin marah, Aka-chan! Mengapa kau melarikan diri begitu saja? Juliet ingin pergi bersama Romeo, bodoh! Kau dengan gembira bermain-main saat aku terjebak dengan pembuatan esai dalam waktu tiga puluh menit.
Aku bukan hanya meringis melihat betapa sulitnya untuk merangkai kata-kata. Aku butuh teriakan ceriamu, candaanmu dalam kelas, tawamu, atau setidaknya ekspresi wajahmu saat kau sedang mengulum permen karet--lalu aku akan berusaha modus untuk meminta permen karet lagi. Bodoh. Aku sudah kepalang senang melihat kau duduk di meja di sampingku saat makan siang tadi, mengapa kau malah tidak bisa membuatku ceria lebih lagi?
Mengapa kebahagiaan itu begitu sulit untuk didapatkan?
Mungkin aku memang belum sampai kepada tahap 'suka', mungkin aku masih hanya mengagumimu dan menganggap suaramu yang memanggilku dengan sebutan menyebalkan namun lucu itu adalah luapan sungai kebahagiaan untukku. Mungkin karena itulah, aku harus terus berusaha agar setidaknya aku bisa melirik ke mana arah kau datang dan pergi, agar aku bisa berbicara denganmu walau hanya sekilas, agar aku bisa dianggap setara denganmu ....
Astaga. Aku jadi berlaku bodoh karenamu.
Apapun itu, aku sudah sadar suatu hari nanti aku akan mulai kehilangan dirimu, tetapi aku tidak pernah menyangka hal itu akan terjadi secepat ini. Nee, Aka-chan no baka, aku ingin kau ada di sampingku, mengajakku bicara lagi, dan aku ingin mengenal dirimu lebih lagi. Buat aku jatuh cinta padamu, melupakan dirinya karenamu, dan mabuk setiap empat hari dalam seminggu oleh perasaanku untukmu.
Do happiness only came on Friday? Mostly happiness related to you?
Dream out Loud! =)
Subscribe to:
Posts (Atom)