Nee, Kuro-kun,
Aku mendapat pertanyaan dari Rifka di Whatsapp. Ya, sekarang kami sedang membahas banyak hal.
"Sejak kapan kamu menyukai Kuro-kun?"
Memoriku terulang, Kuro-kun. Saat-saat aku mencapai titik kejenuhanku, saat akhirnya aku menatapmu dengan cara yang berbeda dari biasanya, dan mulai merasakan debaran yang berbeda. Kupu-kupu yang dulunya muncul saat aku dengannya kini berpindah ke arahmu. Sampai sekarang.
Dan betapa bodohnya aku untuk mengungkapkan perasaanku yang masih seumur jagung sampai akhirnya semua impianku musnah begitu saja.
Aku takut, jika aku sudah berkata demikian, lalu perasaanku hanyalah perasaan suka biasa. Toh ternyata aku mengerti, aku memang mencintaimu sejak awal, tanpa alasan apapun, karena aku takkan pernah bisa menemukannya.
Namun ada satu hal yang aku pelajari--aku kembali belajar untuk mengikhlaskan dirimu. Untuk mendukungmu bersama-sama dengan orang yang mencintaimu ataupun yang kau cintai. Untuk hanya puas dengan menemukanmu sedang memetik senar-senar gitar dan mendengarkan dengan seksama. Tidak apa-apa.
Aku takut, Kuro-kun. Takut tidak bisa memenuhi janjiku pada diriku sendiri, teman-temanku, dan padamu. Aku takut hatiku tidak bisa memilih orang lain--setidaknya, sementara ini, aku masih sering teringat dengan suara lembutmu saat sedang menyenandungkan lagu kesukaanmu. Kau perlu tahu, Kuro-kun, aku masih mencintaimu. Masih terlalu terikat dengan imaji tentangmu. Aku ingin bersamamu, duduk bersebelahan denganmu, merasakan kehangatan tubuhmu.
Aku menginginkan dirimu.
Mimpi yang bodoh, ya? Aku menjadi bodoh jika harus berhadapan denganmu, karena aku takut dan tidak ingin menyakitimu. Itu saja.
I hold you, I touch you ... baka yume no naka de ....
No comments:
Post a Comment
Review yang membangun akan selalu dibaca dengan senyum lebar di raut wajah penulis :)