September 21, 2012

Friendzoned?

Nee, Aka-chan,

Ini adalah pertama kalinya aku menulis untukmu, sepertinya. Aku baru menyukaimu, dan agak sulit untuk mencari nama untuk menyebutmu tanpa menunjukkan siapa yang kumaksud--ayolah, aku ini ada dalam keadaan friendzoned!

Omong-omong soal topik menyebalkan namun manis itu, kurasa aku sudah mengerti rasanya. Kau tahu? Aku bahagia untuk menanti hari kita akan sekelas selama beberapa hari, dan agak sedih saat hari itu akan berakhir--karena aku harus menunggu minggu depan, dan sampai saat itu, aku hanya bisa mengintaimu dari kejauhan saja.

Aku diam. Tak mau mengulangi kesalahan yang sama. Hanya memberitahukan hal ini kepada sahabatku yang takkan pernah mengenalmu--perasaanku harus kututup rapat.

Namun apa kau bisa memperhatikan? Aku tersenyum segila dirimu saat kau bertingkah lucu lagi di kelas, berharap dalam setiap pembagian kelompok agar aku bisa bersamamu--yang kenyataannya selalu gagal.

Tapi hari ini, dengan kondisi duduk yang berubah, kau duduk di sebelahku.

YATTAA!!!

Aku bahagia, bodoh! Walaupun temanku sendiri berkata kau itu gila, aku tak peduli, karena kegilaanmu membuat aku bahagia terus-menerus.

Dan kita bicara. Lagi. Lebih panjang dari biasanya.

Aku bahagia sekali untuk mengenalmu lebih lanjut. Walaupun akhirnya aku masih tidak tahu cara mengontakmu secara tidak langsung (akun Twitter dan FB-mu sangat sulit dicari!), aku sudah tahu salah satu sisi dari dirimu.

Nanti, saat kita berbicara seperti ini lagi, aku ingin secara terselubung menanyakan hal-hal tentang dirimu. Mengenal siapa orang yang berhasil membuatku jatuh dalam kekaguman--walau hatiku sekarang terbelah dua antara kau atau dia yang sudah lama aku cintai. Lalu menuliskannya di blog dalam bahasa sastra agar kau tidak mengerti apa yang ingin kusampaikan.

Karena aku ada dalam kondisi friendzoned--tak seharusnya kau tahu perasaan berlebih yang kumiliki untukmu.

September 14, 2012

Love, Like, And Other Numb Feelings.

Nee, Kuro-kun,

Kau tahu? Akhir-akhir ini ada satu pemuda yang berhasil mengembalikan semangatku untuk pergi ke sekolah seperti kau membuatku bersemangat waktu masih memakai bawahan biru dulu.

(--ah, 'seperti' tidak akan cocok. Mungkin 'hampir seperti' akan lebih pantas.)

Ya. Aku cukup sering bertemu dengannya, melintasi lokernya, dan meliriknya sedang ada bersama dengan teman-temannya, ataupun mendengar suaranya, menggetarkan gelombang-gelombang longitudinal yang mau tak mau membuatku cekikikan di balik sweater merah menyebalkan itu.

Kau tahu? Aku meragu. Sampai sekarang.

Aku takut karena aku tahu, dalam hati, setiap kali aku membiarkan lagu Hatsune Miku no Shoushitsu dilantunkan, aku masih memikirkan dirimu.

(--karena aku tahu, jantungku masih sering berdebar saat wajahmu melintas dalam khayalku. Aku mencintaimu, masih sangat mencintaimu!)

Lalu, dia itu apa? Hanya seseorang yang memang kebetulan saja sering melintas di dalam memoriku karena beberapa kebetulan belaka?

Kau harus tahu, kalau aku masih berharap aku cukup mencintaimu untuk membuatkan sebuah cerpen di hari ulang tahunmu--yang aku tahu 85% kemungkinan takkan pernah kuberikan padamu. Aku masih ingin mencintaimu seperti dulu, saat aku masih bisa melihat wajahmu dan wajah dia yang mencintaimu hampir setiap hari. Dan merasakan seperti apa rasanya menemukanmu di pojokan kelas, sedang memainkan nada-nada yang kusuka.

(--dan, oh tidak, aku merasakan semburat kegembiraan yang sama saat aku berhasil menemukan wajah pemuda itu!)

Aku, saat ini, memutuskan untuk tetap mencintaimu dan hanya sekedar menyukainya, memilihmu lebih dari dirinya, walau jelas kau menyakitiku lebih dari dia. Namun aku juga tahu, suatu hari nanti, mungkin posisi ini akan terbalik--sementara kau dan dia takkan pernah peduli tentang hal ini.

Kuro-kun, aku meragu. Aku mencintaimu. Aku menyukai dirinya. Apa aku salah?

September 10, 2012

Over Dreams and Stupid Things

Nee, Kuro-kun,

Aku mendapat pertanyaan dari Rifka di Whatsapp. Ya, sekarang kami sedang membahas banyak hal.

"Sejak kapan kamu menyukai Kuro-kun?"

Memoriku terulang, Kuro-kun. Saat-saat aku mencapai titik kejenuhanku, saat akhirnya aku menatapmu dengan cara yang berbeda dari biasanya, dan mulai merasakan debaran yang berbeda. Kupu-kupu yang dulunya muncul saat aku dengannya kini berpindah ke arahmu. Sampai sekarang.

Dan betapa bodohnya aku untuk mengungkapkan perasaanku yang masih seumur jagung sampai akhirnya semua impianku musnah begitu saja.

Aku takut, jika aku sudah berkata demikian, lalu perasaanku hanyalah perasaan suka biasa. Toh ternyata aku mengerti, aku memang mencintaimu sejak awal, tanpa alasan apapun, karena aku takkan pernah bisa menemukannya.

Namun ada satu hal yang aku pelajari--aku kembali belajar untuk mengikhlaskan dirimu. Untuk mendukungmu bersama-sama dengan orang yang mencintaimu ataupun yang kau cintai. Untuk hanya puas dengan menemukanmu sedang memetik senar-senar gitar dan mendengarkan dengan seksama. Tidak apa-apa.

Aku takut, Kuro-kun. Takut tidak bisa memenuhi janjiku pada diriku sendiri, teman-temanku, dan padamu. Aku takut hatiku tidak bisa memilih orang lain--setidaknya, sementara ini, aku masih sering teringat dengan suara lembutmu saat sedang menyenandungkan lagu kesukaanmu. Kau perlu tahu, Kuro-kun, aku masih mencintaimu. Masih terlalu terikat dengan imaji tentangmu. Aku ingin bersamamu, duduk bersebelahan denganmu, merasakan kehangatan tubuhmu.

Aku menginginkan dirimu.

Mimpi yang bodoh, ya? Aku menjadi bodoh jika harus berhadapan denganmu, karena aku takut dan tidak ingin menyakitimu. Itu saja.

I hold you, I touch you ... baka yume no naka de ....