Ini adalah pertama kalinya aku menulis untukmu, sepertinya. Aku baru menyukaimu, dan agak sulit untuk mencari nama untuk menyebutmu tanpa menunjukkan siapa yang kumaksud--ayolah, aku ini ada dalam keadaan friendzoned!
Omong-omong soal topik menyebalkan namun manis itu, kurasa aku sudah mengerti rasanya. Kau tahu? Aku bahagia untuk menanti hari kita akan sekelas selama beberapa hari, dan agak sedih saat hari itu akan berakhir--karena aku harus menunggu minggu depan, dan sampai saat itu, aku hanya bisa mengintaimu dari kejauhan saja.
Aku diam. Tak mau mengulangi kesalahan yang sama. Hanya memberitahukan hal ini kepada sahabatku yang takkan pernah mengenalmu--perasaanku harus kututup rapat.
Namun apa kau bisa memperhatikan? Aku tersenyum segila dirimu saat kau bertingkah lucu lagi di kelas, berharap dalam setiap pembagian kelompok agar aku bisa bersamamu--yang kenyataannya selalu gagal.
Tapi hari ini, dengan kondisi duduk yang berubah, kau duduk di sebelahku.
YATTAA!!!
Aku bahagia, bodoh! Walaupun temanku sendiri berkata kau itu gila, aku tak peduli, karena kegilaanmu membuat aku bahagia terus-menerus.
Dan kita bicara. Lagi. Lebih panjang dari biasanya.
Aku bahagia sekali untuk mengenalmu lebih lanjut. Walaupun akhirnya aku masih tidak tahu cara mengontakmu secara tidak langsung (akun Twitter dan FB-mu sangat sulit dicari!), aku sudah tahu salah satu sisi dari dirimu.
Nanti, saat kita berbicara seperti ini lagi, aku ingin secara terselubung menanyakan hal-hal tentang dirimu. Mengenal siapa orang yang berhasil membuatku jatuh dalam kekaguman--walau hatiku sekarang terbelah dua antara kau atau dia yang sudah lama aku cintai. Lalu menuliskannya di blog dalam bahasa sastra agar kau tidak mengerti apa yang ingin kusampaikan.
Karena aku ada dalam kondisi friendzoned--tak seharusnya kau tahu perasaan berlebih yang kumiliki untukmu.