August 6, 2012

Stupidness

DO. DO. DO. DO. DO. DO. DO. DO. DO. DO. DO.

Kuis pertama dengan Ms. Amalia sama sekali tidak berjalan selancar yang kuharapkan--nilaiku adalah sama dengan KKM, 70. Aku yakin, jika aku mendapatkan nilai itu di Sempana, mungkin aku sudah sedang berusaha keras untuk menahan air mata.

Ini Matematika, pelajaran wajib sekaligus kesukaanku. Mengapa di sekolah ini, aku mendadak merasa bodoh dalam mengerjakan soal-soalnya? Rasanya seperti dihadapkan dengan segunung soal olimpiade yang tidak pernah kumengerti. Setiap soal rasanya harus kutanyakan keakuratannya pada teman-teman yang lain, yang jelas mendapatkan nilai kesempurnaan di kertas kuisnya. Seketika, awan gemuruh kebodohan seakan-akan meliputi diriku dan tidak mau melayang pergi.

Aku tidak akan lagi mengharapkan sebuah nilai sempurna 100 tertera di kuis, tidak di kelas ini (mungkin). Setidaknya, izinkan aku untuk meraih angka di atas 85, karena jujur saja, aku masih menyukai sekolah ini!

DO. Dua huruf yang melambangkan pengusiran secara tidak layak itu menghantui pikiranku sementara angkot melaju. Kalau ini terjadi terus-menerus, DO benar-benar bisa terjadi padaku--maksudku jika beasiswaku sampai dicabut atau dikurangi, lalu aku terpaksa harus keluar sekolah dengan alasan biaya.

Semua ini mulai membuatku frustrasi.

Tuhan, tolong!

Dream out Loud! =)

No comments:

Post a Comment

Review yang membangun akan selalu dibaca dengan senyum lebar di raut wajah penulis :)