October 25, 2012

Envy

Nee, sensible girl,

Aku setengah berharap kau tidak menyadari bahwa kaulah yang aku bicarakan di sini. Aku tahu, kita adalah teman sekelas, dan mungkin apa yang kukatakan adalah (sesuatu yang kuharapkan sebagai) sebuah kesalahan yang diperbuat oleh telingaku yang sensitif kalau sudah berurusan dengan Kuro-chan.


Ya, berdasarkan apa yang kudengar, aku baru saja mengerti bahwa retreat kali ini membuatku jatuh cinta dan patah hati dalam waktu bersamaan. Di saat absensi, aku mendengar kalau Kuro-chan menyukaimu--sampai menyerempet soal istri idaman.

Dan mendadak aku ingat kalau kalian berasal dari sekolah yang sama--aku tidak yakin kalau kalian satu kelas juga. Saat kita berjalan bersama dari kelas Kimia, dia menyapamu terlebih dahulu. Di Twitter, jarang sekali ada akun milik seorang wanita yang ia ikuti, kecuali--berdasarkan apa yang aku ingat--kakaknya dan kau. Dan semua gaya bicaranya saat ia menyatakan perasaannya padamu, rasanya aku ingin menangis sembari meringkuk di balik selimut.

Mengapa kau harus begitu menarik?

Aku kadang iri padamu--oh ayolah, aku iri pada semua orang, mungkin--mengenai begitu banyak hal. Aku iri pada kecantikanmu. Pada pacarmu yang begitu pintar dan sangat dewasa. Pada kepintaran dan kemampuanmu untuk menari dan bermain gitar. Pada sikapmu yang cocok untuk menjadi kekanak-kanakan dan dewasa dalam waktu yang sama.

Pada apapun yang melekat di dirimu sampai Kuro-chan jatuh cinta padamu.

Karena aku sadar, aku bukan apa-apa jika dibandingkan denganmu. Aku tidak berharga di matanya jika ada kau. Dia pasti menyukaimu sejak lama, walau aku tak yakin kapan. Dalam waktu sepersekian detik, aku tahu kalau harapanku agar dia menyukaiku adalah sia-sia belaka--oh ayolah, ia pasti terlalu buta olehmu untuk menyadari modusku terhadapnya!

Terkadang, aku berharap aku bisa menjadi dirimu. Aku tahu itu salah, namun selama aku tidak menggilai harapan itu, sepertinya sedikit iri padamu tidak akan menjadi masalah besar.

--ups. Mungkinkah?

Dream out Loud! =)

October 24, 2012

Thank you, Farewell

Nee, Kuro-kun,

Aku ingin mengucapkan perpisahan kecil untukmu, untuk perasaanku mungkin. Perasaanku semakin mengecil. Seiring berjalannya waktu, saat aku memikirkan dirimu, yang semakin jarang terlintas, semua debaran itu akan menghilang. Jadi untuk saat ini, biarkan aku mengucapkan selamat tinggal. Untuk perasaanku padamu. Untuk semua harapanku yang tidak mungkin terjadi. Untuk semua keinginanku mengenai kado ulang tahun yang mungkin takkan kuberikan padamu.

Terima kasih, sampai jumpa.

Mulai sekarang, saat kau menggalaukan dirinya, aku juga akan merasakan hal yang sama untuk Kuro-chan.

Dream out Loud! =)

Koi Wa Burakku

Nee, Aka-chan (atau yang harus kuubah sebentar lagi),

Rasanya, aku mulai jatuh cinta padamu. Benar tebakanku, suatu hari nanti perasaanku akan berkembang untukmu. Namun tak kusangka, tiga hari yang menggila ini membuatku sadar bahwa kaulah yang sekarang selalu membayangi pikiranku.

Aku begitu bahagia untuk berada dalam bus yang sama denganmu--walau kenyataannya tidak ada yang terjadi saat kita berangkat menuju Ciawi. Aku begitu kesal untuk tidak bisa bergabung dengan kelompok yang sama denganmu--mungkin aku salah berdoa, karena tepatnya kau ada di kelompok dengan tema yang sama sekali tidak kuinginkan untuk talent show.

Namun tiga hari ini, aku sedikit lebih mengenalmu. Dari pengamatanku, aku sadar kalau kau menyukai warna hitam. Jaket hitam yang kau pakai di atas kaus hitammu membuatmu terlihat begitu keren di mataku, begitu juga dengan celana hitam dan jam tangan hitam--sayang tasmu berwarna abu-abu. Demi apapun astaga aku berani bersumpah kau begitu memukau dalam balutan hitam, yang kontras dengan warna kulitmu.

Aku ingat saat aku begitu kesal untuk tidak berbicara denganmu walau hanya sekali saja, sampai akhirnya aku memanggilmu dengan sebutan lain yang kusamarkan untukmu. Kau tak mengerti, walau aku tak lagi menjadi rusa di depan lampu sorot mobil, aku masih begitu gembira untuk sadar saat kau memanggilku sambil memintaku untuk memanggilmu dengan benar. Apalagi dalam talent show, astaga kau membuatku begitu bahagia untuk mendengar suaramu saat menyanyi, melihat kekonyolanmu saat menarikan tarian aneh bin sinting itu, dan tawamu yang cukup keras itu. Untuk melihatmu tersenyum yang lucu itu, aku begitu bahagia. Ya, aku akan berusaha untuk memanggilmu dengan benar.

Aku senang untuk berfoto agak dekat denganmu saat foto sekolah. Aku tak mau peduli. Aku ingin berada lebih dekat denganmu lagi. Tidak apa-apa, kan? Aku ingin meneriakkan namamu terus-menerus dan mengatakan kalau aku mencintaimu. Bolehkah? (walau aku sadar, kau menyukai temanku, membuatku semakin iri saja dengan kecantikannya)

Cinta, bagiku, bukanlah berwarna merah, namun berwarna hitam. Menenangkan. Memukau. Mempesona. Menarik perhatian. Kau adalah hitamku yang baru. Aku mencintaimu.

Dream out Loud! =)

October 21, 2012

Little Wish

Nee, Kuro-kun,

Aku harap kita masih satu kelas.

Dream out Loud! =)

(--agar aku tetap bisa menyukaimu, agar aku tidak pernah merasa lelah untuk mencintaimu, agar aku tahu bahwa mempertahankan perasaan ini adalah hal yang benar, agar aku mengerti bahwa tidak sepantasnya aku beranjak dari sensasi yang telah menyelimutiku selama sepuluh bulan terakhir ini. Andai kita masih menuntut ilmu dalam kelas yang sama, kemungkinan besar nama aka-chan tidak akan muncul dalam blog ini karena seluruh perasaanku hanyalah untukmu. Aku mungkin tidak lagi mencintaimu seperti dulu karena kau sudah terlalu jauh di mataku, dan mulai membagi perasaanku untuk orang lain karena kau tidak bisa meyakinkanku lagi. Aku ingin mencintaimu sepenuhnya, namun takdir tidak memberi kesempatan yang sepantasnya.)

Deer in the Headlights

Nee, Aka-chan,

Aku mengakuinya sekarang, aku mulai menyukaimu, memimpikanmu, dan berdoa agar kita bisa bergabung dalam kelompok yang sama saat retreat di esok hari. Atau pasangan dalam ujian speaking Bahasa Inggris. Atau apapun yang akan menjadi sangat membekas di hatiku--karena saat kita sekelompok, aku bahkan tidak menyadari apa-apa, hanya kalau kita menang.

Aku kadang bermimpi kau menggantikan Garry di kelasku. Atau aku (dengan ekstrimnya) bermimpi kita pergi jalan-jalan berdua, bermain DJ Max berdua, lalu saat kita ada di luar di malam hari, kau memelukku dari belakang dan aku seperti rusa terkena lampu depan mobil--seakan aku dan seluruh dunia berhenti seketika.

Ya, aku adalah rusa yang melihat lampu depan mobil. Aku berhenti dan nyaris tidak bisa memikirkan apapun saat kau memanggilku dengan panggilanmu yang aneh namun sangat kusukai, yang pertama kali kau lontarkan saat kau bahkan melupakan namaku. Setiap kali aku mendengar sepotong suaramu yang ditujukan untukku secara mendadak, aku terdiam membeku di tempat sebelum aku bisa membalas dengan ledekan yang kubuat sendiri--dan sayangnya itu bukanlah apa yang biasa kugunakan untuk merujuk kepadamu dalam blog ini.

Aku ingin menyatakan perasaanku, namun bukan sekarang. Saat ini aku masih memiliki sedikit pengharapan agar kau bisa membalas perasaanku, tidak seperti yang dulu yang aku yakini takkan pernah bisa membalas perasaanku.

Jadi, apa salah kalau aku begitu gembira untuk menemukanmu di situs jejaring sosial namun tidak membuat koneksi apapun denganmu, hanya menunggumu untuk melakukannya lebih dahulu--itupun kalau kau ingat padaku?

Dream out Loud! =)

(--dan oh iya, Tuhan, apa aku meminta hal yang salah untuk membiarkan aku dan Aka-chan berada dalam kelompok yang sama saat retreat nanti, bukan hanya sekedar dalam bus yang sama?)

October 6, 2012

Tick-tocks and Tears

Nee, Horrors-tachi,

Kalian tahu, tidak? Aku bukan orang yang bisa menangis setiap kali ada acara perpisahan.


Aku tidak menangis saat perpisahan Konferensi Anak Bobo 2007. Aku tidak menangis saat perpisahan SMP dan semua bermaaf-maafan, yang kulakukan saat itu hanya meminta maaf tanpa air mata yang ingin keluar, padahal aku ingin sekali menangis dan menunjukkan pada mereka semua bahwa aku menyayangi Sempana dan tidak mau kehilangan @eightsigh7ed.

Aku bahkan tidak menangis saat nenek dan kakekku meninggal--walau kenyataannya memang sulit menemukan orang yang menangisi kepergian mereka selama acara penguburan, karena masih beranggapan bahwa mereka sudah bahagia di surga.

Aku melihat temanku yang menangis karena pamannya meninggal secara mendadak, dengan cara yang agak tidak menyenangkan, dan lebih lagi belum percaya kepada Tuhan. Dia menangis.

3 di antara kita akan pergi sebentar lagi, akhir bulan ini. Kelas kita akan bertambah sepi--tidak ada yang tahu apakah akan hadir orang lain yang menggantikan posisi mereka seperti Bill dulu. Setidaknya, mereka pergi untuk mengejar mimpi mereka, bukan?

Aku yakin seratus persen bulat-bulat bahwa aku sudah memiliki daftar nama orang-orang yang akan menangis di acara perpisahan yang entah kapan dan bagaimana hal itu akan terjadi. Tidak ada namaku di sana.

Aku tahu, aku bukan orang yang mudah menangis. Aku mungkin seorang penggembira, aku mungkin terlihat jelas saat aku marah, namun aku tidak sering menunjukkan sisi kegalauanku di depan banyak orang, dan aku tidak sering menangis karena hal-hal yang sudah kusebutkan.

Apa aku ini ... tidak punya hati?

Jawablah.

Dream out Loud! =)

October 5, 2012

The Key

Nee, Kuro-kun,


Itu kunci loker perpustakaan, sebenarnya. Warnanya hitam, dengan tulisan hitam di atas kotak putih, dan ada gelang karet hitam agar tidak hilang. Serba hitam, serasi denganmu dan kontras denganku, bukan? Teman-temanku saat sedang berfoto bersama di perpustakaan bertanya-tanya mengapa aku terus mengikutsertakannya dalam nyaris foto dan akhirnya membantuku membuat foto ini--tentu saja sambil menceritakan dirimu.


Aku ingin berkata bahwa itu singkatan dari motto-ku, dream out loud, namun akhirnya malah jadi membicarakanmu. Ya, aku masih terbang ke langit setiap kali mendengar namamu--jangan heran mengapa aku mengusulkan tema 'perapian yang menyala-nyala' untuk tugas miniatur CS. Aku ingin mengenangmu sampai akhirnya aku benar-benar bisa berpindah hati. Untuk sekarang ini, aku masih menyukai gambar ini.

412. Itu (sebagian dari) inisial namamu. Itu juga inisial nama kita. Namun aku tidak pernah bisa memiliki kunci ini, ini hanya sewaan belaka. Namun aku akan berusaha menempati loker itu setiap kali pergi ke perpustakaan.

Dan mengingat itu hanyalah sewaan, aku sadar bahwa aku takkan pernah bisa memilikimu--aku hanya bisa meminjammu saja, karena kau sudah ada yang punya. Aku hanya orang ketiga bersifat transparan, atau mungkin keempat, atau mungkin jajaran paling terakhir dari para putri Hawa yang memendam perasaan khusus untukmu, karena aku takkan pernah pantas untuk mencintaimu seutuhnya. Tidak, aku bukanlah milikmu, kau bukanlah milikku juga.

Aku hanya menyewa kau untuk kucintai sementara waktu, untuk menyenangkan hatiku belaka. Namun sadarlah, aku mencintaimu karena aku ingin mencintaimu. Tidak lebih.

Dream out Loud! =)

Spirits Related to You

Nee, Aka-chan,

Hari ini aku bertanya kepada teman-temanku yang biasanya makan siang bersamaku--bisakah mereka menebak dirimu sebagai orang yang menyemangatiku dalam setiap pertemuan pelajaran yang membosankan ini?


Ini hari Jumat. Mungkin aku terlalu awal untuk menyatakan bahwa Jumat adalah kebahagiaanku. Mungkin kebahagiaan yang kudapatkan itu memang terjadi hanya sekali. Jumat lalu, posisi duduk kita diacak, dan aku tidak bisa duduk bersamamu. Jumat ini ....

Aku ingin marah, Aka-chan! Mengapa kau melarikan diri begitu saja? Juliet ingin pergi bersama Romeo, bodoh! Kau dengan gembira bermain-main saat aku terjebak dengan pembuatan esai dalam waktu tiga puluh menit.

Aku bukan hanya meringis melihat betapa sulitnya untuk merangkai kata-kata. Aku butuh teriakan ceriamu, candaanmu dalam kelas, tawamu, atau setidaknya ekspresi wajahmu saat kau sedang mengulum permen karet--lalu aku akan berusaha modus untuk meminta permen karet lagi. Bodoh. Aku sudah kepalang senang melihat kau duduk di meja di sampingku saat makan siang tadi, mengapa kau malah tidak bisa membuatku ceria lebih lagi?

Mengapa kebahagiaan itu begitu sulit untuk didapatkan?

Mungkin aku memang belum sampai kepada tahap 'suka', mungkin aku masih hanya mengagumimu dan menganggap suaramu yang memanggilku dengan sebutan menyebalkan namun lucu itu adalah luapan sungai kebahagiaan untukku. Mungkin karena itulah, aku harus terus berusaha agar setidaknya aku bisa melirik ke mana arah kau datang dan pergi, agar aku bisa berbicara denganmu walau hanya sekilas, agar aku bisa dianggap setara denganmu ....

Astaga. Aku jadi berlaku bodoh karenamu.

Apapun itu, aku sudah sadar suatu hari nanti aku akan mulai kehilangan dirimu, tetapi aku tidak pernah menyangka hal itu akan terjadi secepat ini. Nee, Aka-chan no baka, aku ingin kau ada di sampingku, mengajakku bicara lagi, dan aku ingin mengenal dirimu lebih lagi. Buat aku jatuh cinta padamu, melupakan dirinya karenamu, dan mabuk setiap empat hari dalam seminggu oleh perasaanku untukmu.

Do happiness only came on Friday? Mostly happiness related to you?

Dream out Loud! =)

September 21, 2012

Friendzoned?

Nee, Aka-chan,

Ini adalah pertama kalinya aku menulis untukmu, sepertinya. Aku baru menyukaimu, dan agak sulit untuk mencari nama untuk menyebutmu tanpa menunjukkan siapa yang kumaksud--ayolah, aku ini ada dalam keadaan friendzoned!

Omong-omong soal topik menyebalkan namun manis itu, kurasa aku sudah mengerti rasanya. Kau tahu? Aku bahagia untuk menanti hari kita akan sekelas selama beberapa hari, dan agak sedih saat hari itu akan berakhir--karena aku harus menunggu minggu depan, dan sampai saat itu, aku hanya bisa mengintaimu dari kejauhan saja.

Aku diam. Tak mau mengulangi kesalahan yang sama. Hanya memberitahukan hal ini kepada sahabatku yang takkan pernah mengenalmu--perasaanku harus kututup rapat.

Namun apa kau bisa memperhatikan? Aku tersenyum segila dirimu saat kau bertingkah lucu lagi di kelas, berharap dalam setiap pembagian kelompok agar aku bisa bersamamu--yang kenyataannya selalu gagal.

Tapi hari ini, dengan kondisi duduk yang berubah, kau duduk di sebelahku.

YATTAA!!!

Aku bahagia, bodoh! Walaupun temanku sendiri berkata kau itu gila, aku tak peduli, karena kegilaanmu membuat aku bahagia terus-menerus.

Dan kita bicara. Lagi. Lebih panjang dari biasanya.

Aku bahagia sekali untuk mengenalmu lebih lanjut. Walaupun akhirnya aku masih tidak tahu cara mengontakmu secara tidak langsung (akun Twitter dan FB-mu sangat sulit dicari!), aku sudah tahu salah satu sisi dari dirimu.

Nanti, saat kita berbicara seperti ini lagi, aku ingin secara terselubung menanyakan hal-hal tentang dirimu. Mengenal siapa orang yang berhasil membuatku jatuh dalam kekaguman--walau hatiku sekarang terbelah dua antara kau atau dia yang sudah lama aku cintai. Lalu menuliskannya di blog dalam bahasa sastra agar kau tidak mengerti apa yang ingin kusampaikan.

Karena aku ada dalam kondisi friendzoned--tak seharusnya kau tahu perasaan berlebih yang kumiliki untukmu.

September 14, 2012

Love, Like, And Other Numb Feelings.

Nee, Kuro-kun,

Kau tahu? Akhir-akhir ini ada satu pemuda yang berhasil mengembalikan semangatku untuk pergi ke sekolah seperti kau membuatku bersemangat waktu masih memakai bawahan biru dulu.

(--ah, 'seperti' tidak akan cocok. Mungkin 'hampir seperti' akan lebih pantas.)

Ya. Aku cukup sering bertemu dengannya, melintasi lokernya, dan meliriknya sedang ada bersama dengan teman-temannya, ataupun mendengar suaranya, menggetarkan gelombang-gelombang longitudinal yang mau tak mau membuatku cekikikan di balik sweater merah menyebalkan itu.

Kau tahu? Aku meragu. Sampai sekarang.

Aku takut karena aku tahu, dalam hati, setiap kali aku membiarkan lagu Hatsune Miku no Shoushitsu dilantunkan, aku masih memikirkan dirimu.

(--karena aku tahu, jantungku masih sering berdebar saat wajahmu melintas dalam khayalku. Aku mencintaimu, masih sangat mencintaimu!)

Lalu, dia itu apa? Hanya seseorang yang memang kebetulan saja sering melintas di dalam memoriku karena beberapa kebetulan belaka?

Kau harus tahu, kalau aku masih berharap aku cukup mencintaimu untuk membuatkan sebuah cerpen di hari ulang tahunmu--yang aku tahu 85% kemungkinan takkan pernah kuberikan padamu. Aku masih ingin mencintaimu seperti dulu, saat aku masih bisa melihat wajahmu dan wajah dia yang mencintaimu hampir setiap hari. Dan merasakan seperti apa rasanya menemukanmu di pojokan kelas, sedang memainkan nada-nada yang kusuka.

(--dan, oh tidak, aku merasakan semburat kegembiraan yang sama saat aku berhasil menemukan wajah pemuda itu!)

Aku, saat ini, memutuskan untuk tetap mencintaimu dan hanya sekedar menyukainya, memilihmu lebih dari dirinya, walau jelas kau menyakitiku lebih dari dia. Namun aku juga tahu, suatu hari nanti, mungkin posisi ini akan terbalik--sementara kau dan dia takkan pernah peduli tentang hal ini.

Kuro-kun, aku meragu. Aku mencintaimu. Aku menyukai dirinya. Apa aku salah?

September 10, 2012

Over Dreams and Stupid Things

Nee, Kuro-kun,

Aku mendapat pertanyaan dari Rifka di Whatsapp. Ya, sekarang kami sedang membahas banyak hal.

"Sejak kapan kamu menyukai Kuro-kun?"

Memoriku terulang, Kuro-kun. Saat-saat aku mencapai titik kejenuhanku, saat akhirnya aku menatapmu dengan cara yang berbeda dari biasanya, dan mulai merasakan debaran yang berbeda. Kupu-kupu yang dulunya muncul saat aku dengannya kini berpindah ke arahmu. Sampai sekarang.

Dan betapa bodohnya aku untuk mengungkapkan perasaanku yang masih seumur jagung sampai akhirnya semua impianku musnah begitu saja.

Aku takut, jika aku sudah berkata demikian, lalu perasaanku hanyalah perasaan suka biasa. Toh ternyata aku mengerti, aku memang mencintaimu sejak awal, tanpa alasan apapun, karena aku takkan pernah bisa menemukannya.

Namun ada satu hal yang aku pelajari--aku kembali belajar untuk mengikhlaskan dirimu. Untuk mendukungmu bersama-sama dengan orang yang mencintaimu ataupun yang kau cintai. Untuk hanya puas dengan menemukanmu sedang memetik senar-senar gitar dan mendengarkan dengan seksama. Tidak apa-apa.

Aku takut, Kuro-kun. Takut tidak bisa memenuhi janjiku pada diriku sendiri, teman-temanku, dan padamu. Aku takut hatiku tidak bisa memilih orang lain--setidaknya, sementara ini, aku masih sering teringat dengan suara lembutmu saat sedang menyenandungkan lagu kesukaanmu. Kau perlu tahu, Kuro-kun, aku masih mencintaimu. Masih terlalu terikat dengan imaji tentangmu. Aku ingin bersamamu, duduk bersebelahan denganmu, merasakan kehangatan tubuhmu.

Aku menginginkan dirimu.

Mimpi yang bodoh, ya? Aku menjadi bodoh jika harus berhadapan denganmu, karena aku takut dan tidak ingin menyakitimu. Itu saja.

I hold you, I touch you ... baka yume no naka de ....

August 20, 2012

Hatred

Oke, aku sudah tahu dengan jelas bahwa ini salah. Semua yang kuniatkan adalah sebuah kesalahan.

Tapi bagaimanapun juga, semua ini sudah berawal sejak sekitar akhir tahun 2011. Saat itu di Fanfiction.Net, fandom Screenplay dipenuhi oleh fanfic-fanfic K-Pop yang menggunakan tokoh-tokoh dari boyband dan girlband Korea yang notabene masih hidup. Bersamaan dengan berlangsungnya Indonesian Fanfiction Awaed 2011, aku baru menyadari isi guidelines FFN dan mengerti kalau fanfic-fanfic yang menggunakan tokoh yang belum mati lebih dari 50 tahun dilarang--berbeda dengan AO3 yang memperbolehkannya. Namun mereka tidak mengerti dan tidak bertobat, menyalahgunakan fandom Screenplay ini sampai sekarang--walau ada beberapa yang bertobat. Begitu juga dengan temanku. Aku jadi kesal dengan mereka.

Hal lain yang kuingat adalah saat hashtag #SaveMiku menjadi terkenal. Karena Miku memenangkan polling untuk menjadi penyanyi pembuka Olimpiade London (kalau tidak salah, aku masih tidak mengerti), mengalahkan penyanyi-penyanyi lain, ada K-poppers yang menghapus video-video Vocaloid dari Youtube. Kejam! Kalau mereka membenci Miku karena suaranya yang kepalang tinggi bin cempreng, itu masih bisa diterima. Tapi kalau hanya karena alasan sepele seperti ini ... kalian semua pengecut! Memang akhirnya video-video Vocaloid kembali, tapi tetap saja kejadian ini membekas di hati.

Yang ketiga, yang baru-baru ini sedang (dan masih) terjadi. Ada pihak yang menerbitkan fanfic-fanfic menjadi buku. Yang pertama kali kudengar adalah salah satu fanfic Naruto yang bahkan sampul bukunya saja menggunakan sebuah fanart tanpa izin. Tidak ada yang salah dalam menulis fanfic, tentu saja, selama kita menulis dengan mengikuti peraturan yang ada, salah satunya tidak untuk mencari keuntungan. Lah, ini malah sampai diterbitkan! Apa-apaan ini?!

Tapi yang membuatku lebih geram adalah karena akhirnya ada lagi fanfic yang benar-benar diterbitkan ... dan dari fandom semacam Screenplay! Setahuku, ada yang menggunakan tokoh Suju, dan ada juga yang menggunakan Shinee. Astaga, apa penerbitnya sama sekali tidak mengerti isi hukum perlindungan hak cipta? Apalagi ini menggunakan orang yang masih hidup, bagaimana izinnya? Ini salah. Ini jelas-jelas salah! Ini kasus yang lebih parah dari insiden Screenplay!

Sampai sekarang, walau aku sempat menulis fanfic untuk fandom K-pop (Playful Kiss), aku masih teringat hal-hal ini dan kadang jadi membenci para K-poppers. Salah sih, tapi ... ah, sudahlah. Mungkin aku yang harus belajar untuk melupakan.

Dream out Loud! =)

August 12, 2012

Kangen Menjadi Kangen Parah

Aku tidak pernah menyangka hal-hal normal akan terjadi setiap kali mataku melirik keberadaan kelasku tercinta, Eightsigh7ed.

Buka puasa bersama yang diadakan di salah satu restoran di Perum 1 benar-benar menyenangkan. Selain karena hari ini ada pembagian BTS, beberapa teman kami yang bersekolah di tempat-tempat jauh sudah berjanji untuk datang. Berbeda dengan beberapa yang sudah mudik terlebih dahulu.

Tapi tentu saja, dari semua yang tidak datang, aku paling mengerutkan kening untuk Agrippin, panitia BTS dari kelas kami yang malah tidak diizinkan orangtuanya untuk datang.

Setiap kali ada orang yang menginjakkan kaki ke lantai 2 tempat kami berkumpul, rasanya selalu ada jabat tangan hangat, teriakan nama, dan pertanyaan tentang sekolah baru. Kadang aku juga tertawa, mereka cukup sering menanyakan sekolahku di UPHC dan aku juga balas bertanya tentang sekolah mereka. Harus kuakui, sepertinya SMA 78 Jakarta lebih berat.

Menu bukber ... sebetulnya tidak terlalu aku nikmati. Aku menyukai cocktail, tapi rasanya tidak sanggup untuk menghabiskan isi piringku seperti biasanya.

Tidak apa-apa sih, sebenarnya. Lagipula, setelah itu kami tetap menggila, saling menandatangani buku tahunan, dan bahkan sempat berfoto bersama walau akhirnya aku harus termasuk pulang lebih awal.

Dan yang lebih menyenangkan lagi, dia datang! Kuro-kun datang, dan dia tetap terlihat awesome seperti biasanya.

"Gimana? Udah bisa move on?"
"Belum. Lo sendiri?"
"Apaan, orang kelas gue sebelahan sama dia."

Heck, he's too charming. Always like that. And I like it.

Saat aku membiarkan angin mengusap lembut wajahku, harus kuakui, aku bahagia malam itu. Walaupun aku juga berpikir--kami baru berpisah selama sebulan. Nantinya kami tidak akan bertemu untuk waktu yang ... tidak diketahui kapan.

Dream out Loud! =)

August 10, 2012

Days Like Months

Hari-hari pertama terasa seperti sebulan.

Secara tugas, jelas menumpuk. Yang benar saja, rasanya setiap kali aku berjalan menuju kelas tertentu, rasanya ada saja tugas yang kutemui. Sepertinya aku harus pensiun dini dari dunia kepenulisan sementara 3 tahun ini.

Sementara untuk persahabatan ....

Aku tidak bisa bilang kalau aku menemukan pengganti @eightsigh7ed, tentunya. Walaupun intensitas tertawa masih sama, tetap saja itu bukan kelasku yang lama. Namun kebersamaan yang kutemukan adalah sesuatu yang sangat berharga. Walau kami hanya 10 orang, dan kadang menjadi 11, rasanya kami bisa tertawa terus-menerus tanpa merasa bosan.

Entah mengapa, aku jadi merindukan @eightsigh7ed lagi. Setidaknya, aku bisa menikmati penggantinya. Mungkin kita semua berpisah agar bisa menempati kepingan puzzle yang lain dan membentuk gambar-gambar yang berbeda.

Yah, sebanyak apapun tugas dan kuis yang aku hadapi, jika Tuhan bersamaku, aku pasti bisa melaluinya. Lord, help me ....

Dream out Loud! =)

August 6, 2012

Stupidness

DO. DO. DO. DO. DO. DO. DO. DO. DO. DO. DO.

Kuis pertama dengan Ms. Amalia sama sekali tidak berjalan selancar yang kuharapkan--nilaiku adalah sama dengan KKM, 70. Aku yakin, jika aku mendapatkan nilai itu di Sempana, mungkin aku sudah sedang berusaha keras untuk menahan air mata.

Ini Matematika, pelajaran wajib sekaligus kesukaanku. Mengapa di sekolah ini, aku mendadak merasa bodoh dalam mengerjakan soal-soalnya? Rasanya seperti dihadapkan dengan segunung soal olimpiade yang tidak pernah kumengerti. Setiap soal rasanya harus kutanyakan keakuratannya pada teman-teman yang lain, yang jelas mendapatkan nilai kesempurnaan di kertas kuisnya. Seketika, awan gemuruh kebodohan seakan-akan meliputi diriku dan tidak mau melayang pergi.

Aku tidak akan lagi mengharapkan sebuah nilai sempurna 100 tertera di kuis, tidak di kelas ini (mungkin). Setidaknya, izinkan aku untuk meraih angka di atas 85, karena jujur saja, aku masih menyukai sekolah ini!

DO. Dua huruf yang melambangkan pengusiran secara tidak layak itu menghantui pikiranku sementara angkot melaju. Kalau ini terjadi terus-menerus, DO benar-benar bisa terjadi padaku--maksudku jika beasiswaku sampai dicabut atau dikurangi, lalu aku terpaksa harus keluar sekolah dengan alasan biaya.

Semua ini mulai membuatku frustrasi.

Tuhan, tolong!

Dream out Loud! =)

August 5, 2012

And I'm Still Love You So ....

Orang-orang berkata, kalau aku mencintaimu, maka seharusnya aku mengetahui segala sesuatu tentangmu. Tidak begitu. Aku tidak pernah mengetahui rumahmu, seperti apa keluargamu, atau bahkan kapan kau mulai menjalin hubungan dengannya. Tidak sama sekali.

Aku bahkan tidak peduli dengan kekasih barumu itu.

Aku mungkin terlihat terlalu bodoh untuk baru 'melirikmu' dengan pantas setelah lebih dari 2 tahun sekelas denganmu. Aku mungkin terlihat terlalu bodoh untuk tidak bisa menyembunyikan perasaanku terhadapmu dan melakukan hal-hal aneh lainnya, yang jelas-jelas akan menghancurkan jalinan antara kau dan aku yang sudah terlalu rapuh untuk bertahan menjadi satu benang rami tipis.

Namun aku bahagia dengan itu semua. Aku mencintaimu dengan cara yang mungkin tidak kau mengerti. Aku jatuh cinta padamu mungkin bukan karena faktor fisik--walau harus kuakui matamu benar-benar indah. Aku hanya merasakan debaran jantung yang lebih cepat saat aku memikirkanmu, dan aku menyukainya.

Aku menyukai setiap kembang api yang meledak saat kau ada di sana, memukul bola voli menuju daerah lawan atau hanya sekedar iseng memainkan gitar. Aku menyukai setiap kelegaan saat aku berhasil menemukan sosokmu di sana, sedang tertawa dengan dia yang juga menyukaimu, lebih dari aku.

Aku tahu aku takkan pernah mendapatkanmu, mengerti aku takkan bisa mencintaimu lebih darinya, paham aku tidak seharusnya memimpikanmu untuk bersama denganku. Namun apa salah jika kau menjadi inspirasi dalam setiap kata-kata yang mengalir dalam karyaku, dan mau tidak mau membuatku mengharapkan lebih darimu--walaupun hanya ilusi maya belaka?

Aku belum pernah menangisimu, mungkin karena sejak awal aku sudah berniat melepasmu. Tidak ada yang bisa menentukan kepada siapa kita jatuh cinta, bukan? Aku hanya tahu kau tidak mungkin menyukaiku barang sedikit saja. Karena itulah, saat kudengar dia tenggelam saat kau bersama dengan orang yang kau dambakan, aku tersenyum untuk mendengar itu. Kau sudah menemukan orang yang bisa membuatmu bahagia, dan untuk melihatmu tersenyum dan tertawa, aku bahagia.

Aku ingin menatapmu sekali lagi dari kejauhan, lalu tersenyum senang saat kulihat kau bahagia. Mungkin suatu hari nanti, perasaan ini akan memudar, digantikan oleh orang lain. Namun saat ini, aku masih ingin jatuh terduduk di jalan berdebu, kesakitan setelah terpeleset sampah.

Dan aku masih mencintaimu, Kuro-kun, masih sangat mencintaimu ....

Dream out Loud! =)

August 2, 2012

Moving Out

Namanya Bill Ivan apalah aku tidak mau tahu satu kata lagi di belakangnya. Tinggi 188 cm, ukuran sepatu 46/47, mencintai basket dan gitar, murid UPH College kelas 10 IPA Honors. Salah satu penerima beasiswa akademik yang tinggal di Jakarta dan sangat humoris. Setiap kali ada yang kebingungan ingin mengatakan apa untuk perkenalan, dia akan selalu menyeletukkan kata 'nama orangtua' yang selalu mendapatkan cibiran dan hampir mendapat jitakan dari yang lain. Karena tidak memiliki pilihan di dalam kelas yang hanya terisi 10 orang, dia menjadi seksi kerohanian.

Itu yang aku dapat selama 3 hari sekelas dengannya. Setelah itu dia terpaksa pindah sekolah karena urusan keluarga tanpa perpisahan yang layak dengan kami semua. Membuat kami kaget saja.

Nama mereka Odelia Catalina dan Natasha Rusli. Dari kelas Basic, namun akhirnya pindah ke kelas Honors dan menambah jumlah kami. Posisi para laki-laki semakin terancam. Seperti siswa 10 Honors lain, mereka semakin cepat akrab dengan teman-teman baru mereka. Kadang aku bertanya-tanya, apa yang akan terjadi kalau Bill masih ada bersama-sama dengan kami.

Andai dia tahu kalau sekarang Nico membalaskan dendamnya kepada aku yang masih cadel, beda dengannya yang akhirnya bisa sembuh. Andai dia tahu kalau Ms. Amalia memberi kami 'Ho' untuk horror, bukannya honors, dan rencananya akan menjadi nama email kelas kami. Andai ada alasan jelas mengapa salah satu pemecah keheningan di kelas saat kami pertama kali bertemu akhirnya harus meninggalkan kami terlebih dahulu--padahal sudah ada semacam janji untuk masuk bersama dan keluar bersama.

Namun itu hanya sebuah pengandaian. Kurang satu murid, tambah dua murid. Ini hanyalah statistik yang tidak berharga--benarkah?

Dream out Loud! =)

July 30, 2012

First Day

Hari pertama, ya?

Aku kadang iri dengan orang-orang yang melanjutkan sekolah dan memiliki banyak teman dari sekolah yang sebelumnya. Aku pernah merasakan hal ini, dan agak tidak menyukainya--karena banyak aibku yang terbongkar di sana--namun sekarang jika aku melihat orang lain, aku juga memiliki perasaan iri.

Memasuki UPH College, aku sama sekali buta dalam pertemanan, tidak tahu siapa-siapa. Orang-orang yang kukenal di hari pertama sekolah adalah teman-teman gerejaku, yang menjadi kakak kelasku dan tidak mungkin kusapa begitu saja, dan 2 orang yang kutemui di MOS, Kezia dan Vina. Bagaimana dengan kelasku?

Ternyata, kelas tidak seburuk itu. Karena hanya 10 orang, kami cepat mencair. Mungkinkah aku menemukan pengganti eightsigh7ed secepat ini? Aku takkan pernah tahu. Mungkin aku akan terjebak bersama mereka selama 3 tahun ke depan, jika aku bisa mempertahankan beasiswa yang kudapat (ternyata aku peraih beasiswa akademik tertinggi se-angkatan! Mungkin mereka melihat kemampuan ekonomi juga). Dan mungkin ... apa di sekolah ini, aku bisa menemukan pengganti Kuro-kun? Biarlah waktu yang menjawab.

Untuk hari-hari pertama ini, aku hanya bisa mengharapkan hal-hal yang baik.

Dream out Loud! =)

May 7, 2012

Semangka!

"Reza! Semangat ya!"

Namanya Reza Arif Wicaksono. Seorang siswa SMP yang memiliki kemampuan belajar yang bisa dikatakan brilian, dan pernah menjadi juara satu di kelasnya dengan perbedaan nilai total yang sangat tipis--hanya beda 1 angka saja!

"Dua jam lagi, Za! Pasti bisa!"

NEM yang dia dapat pada UN tahun ini adalah 37.10. Dengan total 4 mata pelajaran dan nilai tertinggi yaitu 10, seharusnya orang dapat mengatakan dia sangat brilian dan dengan mudah dapat masuk ke sekolah manapun yang dia inginkan. Bahkan sebuah sekolah di Gorontalo sempat menawarkannya beasiswa--yang langsung ditolak.

"Ayo, Za! Kita ketemu lagi di SMA 1!"

Kenyataannya, dia berhasil mendaftar di SMA negeri terfavorit di seluruh wilayah kota, namun namanya ada di ambang batas, 3 terbawah, dan siap tergeser. Sekarang masih jam 12 siang, dan pendaftaran SMA negeri berdasarkan NEM akan ditutup tepat pukul 2 siang di hari yang sama. 2 jam lagi.

"Posisi lo masih 3 terbawah. Ayo, Reza, bertahanlah!"

Pukul 13.30. Pembagian ijazah, dan nyaris semua murid yang ada di kelasnya sudah tahu akan melanjutkan sekolah di mana. Namun tidak untuk laki-laki satu ini. Dan saat sang wali kelas menyuruh calon mantan anak-anak didiknya untuk menulis sekolah tempat mereka melanjutkan studi, Reza tidak tahu harus menulis apa. Namun dengan kepercayaan diri, akhirnya dia menuliskan kata: SMAN 1 Tangerang.

14.00.

"Reza! Selamat, lo masuk SMA 1, Za! Kita nanti ketemu lagi di sana!"
"Selamat!"
"Ciee, akhirnya bertahan juga!"

Mujizat selalu ada bagi mereka yang percaya, bukan?

Dream out Loud! =)